“Aku tidak perlu bersyukur diberi nikmat nafas, diberi nikmat makan, dll. Karena itu semua adalah kewajiban Allah. Aku toh tidak minta diciptakan. Jadi sudah sewajarnya jika Dia memberiku nafas. Aku bersyukur karena diberi kesadaran sehingga aku menyadari bahwa yang menggerakkan nafas ini Allah.” Begitu kata sahabatku suatu ketika.
“Lagian, kalau Allah itu Maha Pengasih, Maha Pemberi, MAHA SEGALANYA, kenapa Allah biarkan aku dalam kesusahan, terpisah hidup selama bertahun-tahun dengan orang tua dan keluargaku sendiri,.... bla, bla, .... Kenapa Allah berlaku tidak adil kepadaku? Padahal aku selalu rajin sholat, selalu rajin ..., bla, bla, ...”
Astaghfirullahal adzim. Tiba-tiba saja aku marah begitu hebat. Aku tidak rela Allah diperlakukan seperti itu. Nggak sopan tuh ....
Memangnya siapa kita? Apa mentang-mentang kita tidak minta diciptakan, lalu kita boleh tidak berterima kasih? Memangnya siapa kita, berani mewajibkan Allah mengurus kita. Itu hak prerogatif Allah. Sekehendak Dia mau ngapain, iya kan ...
Sahabatku terlalu berburuk sangka kepada Allah, padahal mungkin dibalik semua perjalanan hidupnya itu, akan ada cerita hidup yang manis dan indah untuknya kelak, yang hanya Allah yang tahu rahasia dibalik itu semua, sebelum sahabatku menyadarinya.
Entahlah, aku nggak ngerti. Satu hal yang aku tahu, pada saat mendengar hal itu, tiba-tiba saja Allah memberikan rasa marah dalam hatiku.
Pelit. Itu namanya pelit. Apa susahnya sih berterima kasih atas itu semua? Apa susahnya mengakui bahwa itu semua terjadi atas kebaikan Tuhan dan bukan atas kewajiban Tuhan? Apa susahnya memuji Dia? Allah tidak butuh rasa terima kasih kita.
Kita yang butuh berterima kasih pada-Nya. Kita butuh memuji-Nya. Kita butuh menyembah-Nya. Jika semua itu kita lakukan, akan terjadi harmoni dalam kehidupan kita. Ketenangan, kedamaian.
Ya, itu yang kualami. Damai, tenang dan bahagia. Sangat bahagia bahkan sejak mengenal-Nya.
Sejak merasakan kehadiran-Nya. Sejak Dia menumbuhkan rasa cinta pada-Nya. Sejak Dia mulai mengajakku berkomunikasi setiap saat, lewat bahasa Allah.
Aku tahu sahabatku tidak bermaksud demikian, karena aku tahu dia sangat mencintai Allah, bahkan jauh sebelum aku. Cuma, dalam berspiritual dia mengagungkan akal, sehingga adalah keharusan untuk berpikir kritis terhadap Allah.
Allah tidak akan marah. Itu sah-sah saja.
Tapi entah kenapa aku tidak sependapat dengannya. Kok aku jadi gini? Koq aku jadi sangat mengagungkan Tuhan, sehingga untuk sampai berpikir kritis seperti itu saja, aku tidak sanggup.
Bukannya tidak mau berfikir kritis sebenarnya, tapi secara hati dan pemahaman spiritual yang aku punya. BAGIKU, KEKUASAAN ALLAH TAK TERBANTAHKAN ... yang paling wahid ... dan TAK PERLU DIPERTANYAKAN.
Jadi gak perlu repot-repot cari pembuktian atau berargumen lagi. Cuma tinggal memoles dan membenahi diri sendiri, mana-mana yang kurang, mana-mana yang perlu di tambal demi menuju kebaikan di jalan Allah .... Introspeksi diri terus deh!
Aih, gak kritis kah aku ... Justru wujud rasa syukurku yang tak terhingga, karena aku justru tak pernah gamang, tak pernah merasa perlu untuk mencari TUHAN. Karena ALLAH sudah ada, dekat. Dan sangat dekat dengan hambanya, hanya tinggal hamba itu merasakannya atau tidak.
Selasa, 25 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar