Allah memberiku komputer! Percaya nggak?
Padahal itu belum terucap dalam doaku, baru sekedar keinginan. Amazing! Aku sampai bergidik menyadari bahwa Allah mengetahui bisikan hatiku. Padahal itu baru sekedar keinginan, belum terucap, bahkan dalam doa sekalipun. Jadi ngga ada yang tahu.
Betapa takjubnya aku begitu menyadari bahwa Allah sangat dekat dan Dia mengetahui apa yang ada di hatiku!
Ceritanya begini: Kala itu tahun 1999 aku kuliah di Sekolah Tinggi Komputer di Selatan Jakarta. Karena keuangan Bapakku masih belum memungkinkan untuk membelikanku sebuah komputer, terpaksa aku hanya memakai komputer di rentalan dekat kampus saja.
Ketika salah seorang Omku (adik Bapak) meninggal, yang istrinya pun sudah meninggal lebih dahulu, dan dia tidak memiliki anak kandung, sehingga akhirnya hartanyapun dibagi-bagi kepada kedua belah pihak keluarga Omku juga keluarga istrinya. Itupun tidak dibagi waris menurut hukum Islam, tapi menurut kesepakatan bersama saja di notaris dari semua pihak yang ada.
Sebagai kakak tertua dan figur yang jujur, Bapakku tidak terlibat secara intens di pembagian warisan itu. Terserah persetujuan dan kemauan pihak lain saja. Bapak memang kurang tertarik dengan masalah warisan. Bapak adalah figur yang sederhana dan kurang tertarik urusan uang, alias tidak mata duitan, he,he .... . Selain pembagian harta yang berupa nominal uang, juga ada bagi-bagi harta berupa barang-barang mewah peninggalan Omku yang lumayan cukup berada sebagai salah seorang mantan pejabat di lingkungan Departemen Perikanan. Semua orang ambil bagian, dari kursi ukiran jati, lemari jati, piano, mobil pribadi, handycam, emas permata, dll.
Waktu itu, dalam hati aku hanya ingin minta komputer butut Pentium 1 yang ada di gudang Omku, karena aku memang cuma butuh itu. Tapi rupanya, komputer itu sudah dipesan oleh adik Bapak lainnya, yaitu Tanteku yang sudah pensiun kerja, tapi belum menikah juga hingga di usia itu. Padahal secara materi, dia bisa beli sendiri. "Tapi dasar memang dia tidak bisa melihat kebutuhan keponakannya sendiri," batinku getir.
“Sudahlah,” kata Bapakku,”pasti ada rezeki yang lain nanti.”
Keesokan harinya, kami kedatangan teman Bapak. Mengantarkan sedikit rezeki katanya, uang terima kasih, karena Bapak telah membantu pengurusan surat tanah miliknya dengan baik hingga selesai. Teman Bapak itu adalah seorang pengusaha yang mengalami kesulitan dalam kepengurusan tanah miliknya yang hektaran. Karena kerap dipermainkan oleh para calo pengurus surat tanah, mereka minta uang, tapi surat tanah dan hak milik tidak beres-beres dikerjakan. Padahal sudah puluhan juta habis untuk pengurusan administrasi tersebut.
“Wah, jangan repot-repot dik. Saya ikhlas membantu.” kata Bapak waktu itu.
Ya, Bapakku selain terkenal karena kejujurannya, juga tanpa pamrih memebantu rekannya. Walaupun dia sendiri perlu uang, tapi sungguh tidak money oriented seperti kebanyakan orang lainnya.
"Ah, tidak banyak. Cuma 500 rb koq. Hitung-hitung ucapan terima kasih dari saya," katanya.
Bapak tidak bergeming, tetap duduk di kursinya. Tak lama setelah tamunya pulang, Bapak langsung memanggilku,”Wi, kataya kamu butuh uang untuk beli komputer, ini uang dari temen Bapak disimpan saja, nanti kalau Bapak ada rezeki, kamu bisa kumpulkan lagi ya,”
Waduh, aku kaget juga. Gak salah tuh 500 rb tumpukannya banyak banget? Dasar polos banget Bapakku, ternyata temannya itu memberi kami uang 5 juta! Untuk jaman itu (1999)alhamdulillah banget deh, karena akhirnya aku bisa beli Komputer Pentium III MMX plus printer, modem, speaker dan subwoofer ....
Sungguh Allah Maha Mendengar bisikan hati dan Maha Tahu yang kubutuhkan ... walau belum sempat terucap dalam doaku, namun hanya baru sekedar keinginan dalam hatiku saja.
Menakjubkan bukan? Allah memberiku satu set komputer lengkap dengan segala aksesorisnya!!!
Puas hati rasanya dengan apa yang ku miliki itu, bukan Cuma sekedar komputer butut belaka!
Terima kasih, ya Allah ....
Rabu, 26 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar