Selasa, 25 Maret 2008

Belajar Mengenal ALLAH

Dulu kala masih duduk dibangku kuliah (sekitar 1998), aku kerap berdebat dengan sahabat dekatku, tentang makna kehadiran Allah dan cinta Allah kepada makhluknya. Ada yang lucu menurutku, padahal sang sahabat itu rajin sekali sholat, bahkan tak pernah meninggalkan sholatnya bila dibandingkan denganku. Tapi kenapa masih ragu ya, benakku.

“Sholat sudah mendarah daging denganku, sejak kecil aku sudah dituntut untuk tidak pernah meninggalkan sholat dan mengaji. Sholat itu wajib.”

“Cuma sekedar wajib saja? Nggak ada embel-embel lainnya, maksudku, sholat itu merupakan ajang komunikasi kamu dengan Sang Khalik, begitu kan?”

“Ah, enggak. Aku tidak pernah merasakan seperti itu.”

Sungguh aneh menurutku. Pantas, meski rajin sholat, dia kerap protes terus pada Allah. Satu hal yang malah justru tak pernah terlintas dibenakku. Bagaimana mungkin protes dan tak puas pada Allah, karena DIA lah MAHA SEGALANYA.
Sungguh tak pantas rasanya. Nggak tahu diri malah menurutku. Karena aku merasa Allah itu ada, dan dekat. Sangat dekat dengan makhluknya. Allah tempat kita meminta dan bergantung. DIA tahu yang terbaik bagi setiap hambanya. DIA akan jadi seperti apa yang disangkakan mahkluknya.

Aku sering berdoa, dan mengadu pada Allah. Berbicara dengan Allah lewat batinku. Allah terasa sangat dekat bagiku. Padahal aku kerap malas untuk sholat, tapi dia tetap dekat denganku dan menuntunku melewati segala permasalahan yang datang silih berganti, karena aku PERCAYA, DIA ADA.

Allah mencintai aku, tapi aku belum mencintainya penuh seluruh dengan tidak menjalankan perintahNya. Ah, ternyata aku juga gak tahu diri ya!

Maklum anak muda, kerap tenggelam dalam emosi dan ego diri masing-masing kala itu ....

Tidak ada komentar: