Selasa, 23 Oktober 2007

Nikmatnya Hidup Penuh Rasa Syukur

Betapa indahnya saat kita masih diberi kesempatan untuk hidup, menghirup nafas. Dan diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan mengejar segala ketertinggalan. Sungguh di setiap yang Allah berikan terkandung hikmah yang teramat besar dan berarti bagi kita yang mampu memikirkannya. Dialah pemilik cinta yang sebenarnya, dan dengan cintaNya kita dapat menatap indahnya fajar dan hari-hari yang datang menjelang.

Tapi manusia kerap lupa untuk mensyukuri segala nikmat Sang Penciptanya. Manusia kerap lalai untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya ….. hanya memikirkan kesenangan hidup di dunia semata tanpa memikirkan amal yang akan dibawa ke akhirat kelak. Padahal Allah berfirman:
Bersyukurlah, maka akan Aku tambah nikmat-Ku

Jadi ingat kisah perjalanan hidup seseorang yang aku kenal, seorang wanita tua yang menurutku telah melalui hari-hari hidupnya dengan sia-sia karena tidak mensyukuri nikmat yang Allah telah berikan kepadanya.
Bersyukur mungkin merupakan hal yang tak pernah ada dalam kamus hidupnya. Dia adalah orang yang lebih sering mengeluh, lebih sering melihat segala sesuatu dari sisi yang negative, dan lebih sering membandingkan satu hal yang dia peroleh dengan hal baik yang sedang tidak dia peroleh.

Memang kebetulan hingga hari tuanya di usia ke-78 tahun, dia belum pernah menikah dan tetap melajang hingga di hari senja sisa hidupnya. Hidupnya selalu sendiri, bahkan pembantupun ia tidak punya, walaupun ia mampu untuk itu. Juga tak pernah ada sanak famili ataupun kerabat yang mau tinggal dengannya, karena egonya yang sangat tinggi dan selalu mengatur hidup orang lain.
Ketika jemari tangannya tergores pisau, tergesa-gesa dia akan menilai betapa kurang beruntungnya dia hari ini. Semestinya dia tidak harus tergores sehingga tak perlu ada darah dan luka. Betapa selama ini dia kerap melupakan syukur kepada-Nya atas karunia 10 jari tangan yang bisa berfungsi dengan baik, tapi tidak difungsikan dengan benar.

Apabila kebetulan ada tetangga ataupun famili yang datang ke rumahnya dengan membawa buah tangan, ataupun masakan matang sekedarnya. Bukannya rasa terima kasih ataupun syukur yang keluar dari mulutnya, tapi malah umpatan; “ Sialan, tau begini mending tadi nggak perlu masak’. Padahal seharusnya dia bersyukur dengan begitu berarti menu hidangan makanannya bertambah. Begitulah dia nyaris tak pernah mensyukuri apa yang sudah di dapatnya. Pun ketika akhirnya adik-adiknya menyarankan dirinya untuk memiliki suster yang bisa menjaganya di hari tua, mengingat ia sudah mulai sering sakit-sakitan. Meskipun adik-adiknya membantu untuk membayar gaji suster bulanannya, bukannya ucapan terimakasih yang dilontarkannya, tapi tetap tanggapan tak puas karena masih tetap mesti keluar sedikit uang cuti dan uang baju untuk sang suster itu ...

Sungguh tak pernah mengucap syukur atas segala Nikmat yang telah diberikanNya. Betapa selama ini dia lupa mensyukuri nikmatNya. Lebih banyak kata-kata kosong yang dia ucapkan. Lebih banyak hati terluka karena ucapannya. Lebih banyak kata tak bermanfaat yang terhambur dibandingkan mengumandangkan kalam-Nya.
Ketika kaki tersandung dan terluka, semestinya saat itu pula dia menyesalkan langkahnya yang tak lagi sempurna. Tak pernah dia sadari bahwa itulah cara Allah mengingatkannya atas kurangnya kaki berbuat baik, jarangnya kaki melangkah menuju tempat-tempat yang baik, atau tak seringnya kaki melangkah untuk bersilaturahmi, . Juga masih seringnya kaki berjalan tak bermanfaat dan melangkah ke tempat-tempat yang tak ada gunanya.

Mungkin dia tak pernah memikirkan apa yang akan dia jawab dihari penghisapan kelak jika Allah menanyakan kebaikan apa yang telah dilakukan oleh tangannya? Kata-kata baik apa yang telah dia ucapkan? Atau ke tempat baik manakah kakinya telah melangkah? Sungguh dia tak pernah tahu itu semua, hatinya telah gersang sekian lama, jauh dari pengetahuan agama, dan syukur kepada Penciptanya. Atau malah mungkin dia tak pernah tahu bahwa Allah adalah penguasa segalanya, yang memberi nikmat untuk kehidupannya, bahwa udara yang dia hirup adalah merupakan kemurahan Allah kepada segenap makhluk hidup.

Semestinya kita harus menyiapkan cermin besar yang akan selalu memberi pantulan jernih terhadap nikmat apa yang sudah kita peroleh. Cermin lapang yang darinya kita bisa melihat betapa Allah telah memberi kita sebanyak yang kita inginkan, bahkan lebih dari itu. Cermin tak retak yang akan memantulkan bahwa hal kurang baik yang kita terima adalah tak sebanding dengan banyaknya hal indah yang kita dapat. Cermin jernih yang kita bisa dengan lapang dada menerima kekurangan yang kita terima dan berharap akan pahala Allah atas kesabaran kita menerimanya.

Ternyata kita masih harus banyak belajar tentang hidup dan kehidupan. Tentang rasa syukur yang kerap kita lupakan, meskipun Allah telah begitu banyak melimpahkan karomah-Nya yang begitu besar kepada kita. Semoga kita tak termasuk dalam kelompok orang-orang yang merugi, karena tak sempat bersyukur atas segala Rahmat yang Allah berikan kepada kita.

Senin, 10 September 2007

Catatan Kecil Menjelang Ramadhan 1428 H

TAK terasa satu tahun sudah waktu bergulir. Esok malam kita sudah mulai menjalankan ibadah sholat tarawih, menyambut datangnya bulan Ramadhan 1428 H. Bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh orang-orang yang beriman. Puasa memang hanya dikhususkan bagi orang-orang yang beriman, sebab iman merupakan modal utama bagi kaum muslim untuk menjalankan puasa. Dan alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah di bulan suci ini.
Tapi, sudah siapkah kita menyambutnya? Tentu, setiap diri kita punya jawaban masing-masing. Jawaban yang berbeda-beda. Sungguh beruntung mereka yang penuh suka cita menyambutnya, dengan perasaan senang karena dipertemukan lagi dengan bulan yang mulia ini. Merugi, mereka yang biasa saja, bermalas-malas menyambutnya, apalagi mereka yang tak senang atau merasa terkekang karenanya. Padahal kalau kita memahaminya, sungguh banyak hikmah yang bisa petik pada setiap Ramadhan tiba.
Melaksanakan puasa dalam upaya untuk mencari ridha Allah adalah suatu bukti atau tanda keimanan yang kuat, kesucian jiwa, keikhlasan hati, dan rasa takut kepada Allah.
Puasa adalah suatu bentuk penyembahan khusus antara hamba dan Allah sebagai Tuhannya, karena hanya Allah yang mengetahui niat puasa seseorang. Tak seorangpun mengetahui apakah seseorang berpuasa untuk memberi kesan atau citra ketakwaan kepada orang-orang sekitarnya ataukah untuk maksud lain di luar tujuan mulia yang utama. Orang yang berpuasa diberi imbalan sebagai amalan sesuai dengan apa yang ada dalam pandangan Allah.
Ramadhan juga merupakan bulan pembuktian cinta kita kepada sesama. Melihat dengan mata hati kita, teramat bersyukur kita sebenarnya. Sepanjang pagi dan siang mungkin kita sama-sama menahan lapar. Tapi ketika sore tiba, saat berbuka puasa, makanan-makanan enak toh masih sempat kita santap. Tidakkah kita pantas bersyukur karenanya? Bagaimana pembuktiannya, salah satunya adalah dengan derma kita untuk sesama, semangat untuk memberi dan berbagi dengan sesama. Kita asah mata hati kita untuk lebih peka atas nasib dan penderitaan orang lain. Lantas, kita berikan kebahagiaan sepanjang kita bisa untuk mereka. Membuat mereka sejenak tersenyum.
Dalam sebuah hadits muttafaqun alaihi disebutkan bahwa dengan berpuasa seseorang lebih merasakan kedekatan dengan Allah, “Seluruh amal ibadah anak Adam baginya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya”. Dalam dimensi ini, kita memaknai bagaimana ibadah puasa adalah ibadah khusus. Ini adalah kesempatan kita untuk membuktikan cinta, kerendahan hati seorang hamba kepada sang khalik. Apa yang kita lakukan, puasa yang kita lakukan di bulan Ramadhan, Dialah yang akan membalasnya. Bulan ini juga memberi kesempatan kita terhapus atas segala dosa-dosa kita. Doa-doa ampunan atas segala kesalahan terkabulkan, tentu dengan semangat pengharapan terdalam dari diri kita.
Mari kita tanggalkan kesombongan dan keangkuhan yang mungkin pernah ada, karena manusia kerap memakai topeng-topeng kepalsuan di muka bumi ini. Sadarlah, bahwa kita mungkin dapat mengelabui manusia lain dengan tingkah laku dan mulut manis kita, namun janganlah pernah lupa bahwa Allah Maha Mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui ....
Semoga puasa dan amal ibadah kita di bulan Ramadhan, mampu memacu kita untuk lebih mendekatkan diri dan tawakal kepada-Nya, dan senantiasa mendorong kita untuk membentengi dan menjauhkan diri dari segala kemunkaran yang ada di muka bumi ini.

Marhaban ya Ramadhan!

Bandara Soetta 'September 2007

Minggu, 26 Agustus 2007

Sebuah Permulaan

Langkah awal merupakan kunci utama bagi langkah selanjutnya. Namun langkah awal takkan pernah terwujud, tanpa disertai niat untuk mewujudkannya. Dan sesuatu hal takkan pernah terjadi ataupun ada, tanpa ada yang memulainya. Harapan yang ke arah yang baik tentu menjadi tujuan yang ingin dicapai. Tanpa ada niat yang kuat untuk dapat berbagi, tak kan mungkin blog ini ada ....

Manusia kerap sulit dimengerti, merasa benar dan hebat sendiri serta hanya memikirkan diri sendiri, namun demikian ... kita harus memahami mereka.

Bila kita baik hati, mereka mungkin menuduh kita egois, atau punya maksud tertentu , namun demikian ... kita tetap harus berbuat baik.

Bila kehidupan kita harmonis dan bahagia, mungkin banyak orang yang iri hati dan dengki, namun demikian ... kita tetap harus terus mensyukuri kebahagiaan kita.

Kebaikan dan pertolongan yang kerap kita lakukan dengan mudahnya dilupakan orang, namun demikian... kita tetap harus terus berbuat kebaikan dan menolong sesama.

Bila kita jujur dan tulus hati, orang mungkin akan memanfaatkan ketulusan kita, namun demikian ... kita tetap harus terus jujur dan tulus hati.

Berikanlah selalu yang terbaik dari diri kita, meski itu pun tidak akan pernah
memuaskan pihak lain, namun demikian ... kita tetap harus terus memberi yang terbaik.

Karena pada akhirnya...
Perkaranya adalah antara kita dan Sang Khaliq... dan bukan antara kita dan mereka.

Jangan pernah harapkan yang berlebihan dari manusia,
karena manusia gudangnya khilaf, dosa dan salah.
Mohonlah selalu pertolongan kepada Allah SWT, Sang Penguasa Alam dan Segenap isinya.


Semoga tulisan-tulisanku adalah cerminan pikiran-pikiranku
Dan pikiran-pikiranku ku adalah cerminan hati nuraniku
.