Senin, 10 September 2007

Catatan Kecil Menjelang Ramadhan 1428 H

TAK terasa satu tahun sudah waktu bergulir. Esok malam kita sudah mulai menjalankan ibadah sholat tarawih, menyambut datangnya bulan Ramadhan 1428 H. Bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh orang-orang yang beriman. Puasa memang hanya dikhususkan bagi orang-orang yang beriman, sebab iman merupakan modal utama bagi kaum muslim untuk menjalankan puasa. Dan alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah di bulan suci ini.
Tapi, sudah siapkah kita menyambutnya? Tentu, setiap diri kita punya jawaban masing-masing. Jawaban yang berbeda-beda. Sungguh beruntung mereka yang penuh suka cita menyambutnya, dengan perasaan senang karena dipertemukan lagi dengan bulan yang mulia ini. Merugi, mereka yang biasa saja, bermalas-malas menyambutnya, apalagi mereka yang tak senang atau merasa terkekang karenanya. Padahal kalau kita memahaminya, sungguh banyak hikmah yang bisa petik pada setiap Ramadhan tiba.
Melaksanakan puasa dalam upaya untuk mencari ridha Allah adalah suatu bukti atau tanda keimanan yang kuat, kesucian jiwa, keikhlasan hati, dan rasa takut kepada Allah.
Puasa adalah suatu bentuk penyembahan khusus antara hamba dan Allah sebagai Tuhannya, karena hanya Allah yang mengetahui niat puasa seseorang. Tak seorangpun mengetahui apakah seseorang berpuasa untuk memberi kesan atau citra ketakwaan kepada orang-orang sekitarnya ataukah untuk maksud lain di luar tujuan mulia yang utama. Orang yang berpuasa diberi imbalan sebagai amalan sesuai dengan apa yang ada dalam pandangan Allah.
Ramadhan juga merupakan bulan pembuktian cinta kita kepada sesama. Melihat dengan mata hati kita, teramat bersyukur kita sebenarnya. Sepanjang pagi dan siang mungkin kita sama-sama menahan lapar. Tapi ketika sore tiba, saat berbuka puasa, makanan-makanan enak toh masih sempat kita santap. Tidakkah kita pantas bersyukur karenanya? Bagaimana pembuktiannya, salah satunya adalah dengan derma kita untuk sesama, semangat untuk memberi dan berbagi dengan sesama. Kita asah mata hati kita untuk lebih peka atas nasib dan penderitaan orang lain. Lantas, kita berikan kebahagiaan sepanjang kita bisa untuk mereka. Membuat mereka sejenak tersenyum.
Dalam sebuah hadits muttafaqun alaihi disebutkan bahwa dengan berpuasa seseorang lebih merasakan kedekatan dengan Allah, “Seluruh amal ibadah anak Adam baginya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya”. Dalam dimensi ini, kita memaknai bagaimana ibadah puasa adalah ibadah khusus. Ini adalah kesempatan kita untuk membuktikan cinta, kerendahan hati seorang hamba kepada sang khalik. Apa yang kita lakukan, puasa yang kita lakukan di bulan Ramadhan, Dialah yang akan membalasnya. Bulan ini juga memberi kesempatan kita terhapus atas segala dosa-dosa kita. Doa-doa ampunan atas segala kesalahan terkabulkan, tentu dengan semangat pengharapan terdalam dari diri kita.
Mari kita tanggalkan kesombongan dan keangkuhan yang mungkin pernah ada, karena manusia kerap memakai topeng-topeng kepalsuan di muka bumi ini. Sadarlah, bahwa kita mungkin dapat mengelabui manusia lain dengan tingkah laku dan mulut manis kita, namun janganlah pernah lupa bahwa Allah Maha Mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui ....
Semoga puasa dan amal ibadah kita di bulan Ramadhan, mampu memacu kita untuk lebih mendekatkan diri dan tawakal kepada-Nya, dan senantiasa mendorong kita untuk membentengi dan menjauhkan diri dari segala kemunkaran yang ada di muka bumi ini.

Marhaban ya Ramadhan!

Bandara Soetta 'September 2007

Tidak ada komentar: