Senin, 31 Maret 2008

Mintalah Hanya Kepada Allah

Ini hasil perenungan ku:
Ternyata apa yang aku miliki dan aku dapat selama ini,
semua yang jadi milikku di dunia ini,
Adalah apa yang pernah aku pinta pada Allah dalam doaku.

Pasangan yang berakhlak baik dan menyenangkan hati,
Harta Benda yang aku miliki,
Pun kebahagiaan keluarga.
Tak pernah lepas dan lelah aku memohon Allah
Untuk menjaga kami semua dalam lindungan-Nya selalu ….
Mintalah kepada Allah, Insya Allah DIA akan memberi
Bahkan lebih dari apa yang kau pinta

Alhamdulillah, Allah senantisa mengabulkan permintaanku,
Tapi sungguh, aku tak pernah meminta yang berlebih
Aku hanya minta yang aku butuhkan untuk membahagiakan orang-orang tercintaku.
Mintalah kebaikan pada Allah,
Bukan hanya untuk diri sendiri,
Tapi juga untuk kebahagiaan orang-orang tercinta kita,
Orang tua , pasangan, anak-anak dan orang-orang terkasih

Selalu berusaha untuk jadi orang yang baik,
Meski tak ada insan yang sempurna,
Karena manusia gudangnya dosa,khilaf dan salah
Jangan sombong, angkuh dan takabur
Emang aku gak pernah sombong??
Mustahil, kadang suka sombong juga,
tapi langsung di sentil Allah dengan teguran-teguran khasnya

Tapi aku gak pernah protes kalau ditegur Allah,
Itu pasti karena besarnya cinta-Nya padaku
Malah kerap aku sendiri yang malu,
Karena masih banyak kekurangan-kekurangan yang ada padaku.


Jangan pernah memilih,
Biarlah Allah yang memilihkan untukmu
Pakai hatimu, dan jangan pungkiri nuranimu
Jagalah hatimu dari hal-hal yang bisa mengotori hati
Lekas mohon ampun pada Allah atas segala khilaf yang ada
Mohon petunjuknya selalu ….
Jangan pernah letih ….
Jangan pernah lelah ….

Kalau tidak terkabul?
Jangan pernah ragukan Allah
Jangan berburuk sangka pada-Nya
Jangan Marah pada Allah
Pasti ada jawaban lain dibalik segala keputusannya.
Rencana lain yang lebih baik untuk kita ….
Yang hanya Allah Yang Maha Tahu

Alhamdulillah
Tak pernah terbesit sedikit pun protesku pada Allah
Kalau ada yang kurang
Pastilah kekurangan itu ada padaku
Karena Allah lah yang Maha Sempurna
Tak ada cela sedikitpun Pada-Nya.

Beramal sudah,
Sedekah sudah,
Menyantuni Anak-anak yatim sudah,
Berbakti pada orang tua sudah,
Tapi masih suka apes, kecopetan, kemalingan,
Itu seninya hidup
Apesnya kita, toh rezeki bagi yang lain …
Itu tanda Allah Menyayangi,
DIA sedang menegurku untuk koreksi diri terus
Mencari celah kekuranganku

Minta kekuatan terus kepada-Nya
Karena DIA-lah yang merajai segala kekuatan
Mohon perlindunganlah kepada-Nya,
Karena dia menguasai yang nyata dan yang gaib
Dia Maha pemaksa,
Yang bisa membolak-balikkan hati,
Mohonlah kebaikan untukmu,
Dunia dan akhirat.

Allah Maha Mengabulkan

Mungkin kebanyakan orang kerap merasa cukup membalas dengan ucapan terima kasih saja atas pertolongan yang diberikan orang lain (apalagi kalau berurusan dengan uang), jarang ada yang berdoa dengan tulus dan tanpa pamrih meminta pada Allah untuk membalas perbuatan baik orang tersebut. Kebanyakan mungkin malah berdoa semoga lain waktu orang itu bisa memberi pertolongan lagi, he,he ... GeeR banget ya aku. Sok baik dan suci yaa ... Semoga Allah memaafkan kesombonganku yang satu itu !
Aku pernah dibantu oleh adik Bapakku yang paling bungsu dalam biaya kuliah. Mungkin karena Bapakku pernah membantu Omku dalam hal mencarikan pekerjaan untuknya dulu, jadi giliran Omku itu untuk balas jasa ke Bapakku dengan membiayai uang semester kuliahku hingga selesai. Kalau aku hitung-hitung ada sekitar 10 juta-an yang telah dikeluarkan oleh Omku itu.

Sebelum Om dan istrinya menuanaikan ibadah Haji ke tanah suci, dalam sholat aku sempat meminta pada Allah agar allah membalas budi baik Omku yang telah membiayaiku itu dengan rezeki yang berlipat ganda. Mungkin beberapa kali aku meminta hal yang sama dalam do’aku ... Dan, SUBHANALLAH aku tahu Allah mendengar dan mangabulkan pintaku itu ...

“Masa’ sewaktu di tanah suci, ada orang yang memberi sejumlah real kepada kami, yang ketika ditukarkan, kami dapat uang sejumlah 3o juta “, kata istri Omku itu.

ALLAH, sungguh ... Aku tahu itu karena ENGKAU ya Allah, ...
Engkau yang Maha mendengar dan mengabulkan ...
Duh, semoga ini bukan karena GeeRku lagi karena merasa dekat denganMU ...
Karena banyak sekali 'kebetulan-kebetulan' yang menakjubkan dalam hidupku ...
Itu menurutku lho,...

Allah Maha Pemurah .... Tak Ada yang Sulit Bagi-Nya

“Bang Fadil perlu biaya 15 Juta untuk operasi tumor otaknya”, kata calon suamiku kala itu, di tahun 2002, sebelum kami menikah.

Bang Fadil adalah sepupu yang terpaut 1 tahun lebih tua darinya, merupakan anak dari Om & Tante tempat calonku tinggal selama 24 tahun lamanya (Wah!). Memang keuangan keluarga Sang Tante sudah agak merosot. Dulu Omnya termasuk anggota Dewan Wakil Rakyat negeri ini di dekade 80-an. Tapi seiring perjalanan waktu, kini keuangan tak seperti dahulu lagi, apalagi sepeninggal Omnya di tahun 2000 lalu.

“ Ya, Udah. Abang kasih aja uang tabungan 15 juta itu untuk operasi Bang Fadil. Kan pas tuh, sesuai kebutuhan, “ saranku padanya. Andi hanya diam saja, mematung di depanku. Wajahnya tampak lunglai dan gundah. Kasihan Bang Fadil ....
“Abang nggak usah mikirin, kalau setelah ngasih uang itu untuk Bang Fadil .... kita jadi nggak punya uang tabungan untuk biaya nikah nanti. Rezeki Allah pasti akan ada saja dari yang tidak diduga-duga,” hiburku.
Waktu itu masih medio 2002, sebetulnya calonku waktu itu mengajak untuk segera menikah di Juli 2007. tapi aku menolak. “Belum siap mental,” itu alasanku. Aku minta waktu sampai tahun depannya, Januari, paling cepat sanggahku.
"He,he ... memangnya cari uang untuk biaya menikah gampang apa, apalagi kalau pingin menikah dengan biaya sendiri,pasti butuh waktu lebih lama lagi ....," pikirku meremehkan kemampuan calonku waktu itu.

Sejujurnya niat untuk bisa membantu Bang Fadil, adalah benar-benar saran tulus dariku. Kapan lagi toh, bisa membalas budi baik keluarga Om nya. Apalagi ini menyangkut nyawa ... Aku sampai merinding rasanya....
Tapi jujur juga, selain niat tulus membantu pengobatan Bang Fadil, terselip juga niat untuk memperlambat waktu pernikahanku. Ah, calonku toh, perlu waktu lagi untuk mendapatkan uang. Jadi aku gak perlu buru-buru lekas menikah ....


Tapi Allah Maha Pemurah ....
DIA menyentil aku dengan cara dan karunia-NYA yang MAHA BESAR.
Tidak ada yang sukar dan sulit bagi-NYA ...


Setelah pada Sabtu malam, calonku menyerahkan uang untuk biaya operasi tsb, di hari rabunya ada berita yang tidak disangka-sangka. Rabu malam, ia datang ke rumahku.
“Tadi Abang, dipanggil ke ruangan Boss. Sabtu Besok abang berangkat ke London untuk training selama seminggu. Ini $1000 uang jatah khusus beli keperluan pakaian dingin, tapi karena abang sudah punya semua keperluan itu. Kamu pegang dulu ya, uang ini. Insya Allah sepulang dari sana, ada tambahan lagi sekitar $3500 ...

SUBHANALLAH ... Serasa, ALLLAH menamparku dengan kerasnya. Apa yang aku kira baru akan tergantikan beberapa waktu lamanya, hanya dalam 4 hari sudah tergantikan dengan nilai yang berlipat ganda ... apalagi ternyata di bulan Agustus ada bonus kantor berlebih dari kantor kami. Malah di kantor suamiku, bonus yang biasanya turun di akhir tahun, juga sudah di keluarkan di awal waktu ... SUBHANALLAH ... ALLLAHU AKBAR ... Allah Maha Pemurah ...

Aku merasa seolah Allah menegurku ... Jika memang sudah mampu, dan sudah waktunya… janganlah di ulur-ulur untuk menikah ... ALLAH lah yang punya kuasa atas segala sesuatunya ... Tidak ada yang susah baginya…
Sungguh, tidak ada yang susah bagi-NYA. Jika Kamu PERCAYA.
Dan AKU PERCAYA.

Rabu, 26 Maret 2008

Allah Maha Mendengar

Allah memberiku komputer! Percaya nggak?
Padahal itu belum terucap dalam doaku, baru sekedar keinginan. Amazing! Aku sampai bergidik menyadari bahwa Allah mengetahui bisikan hatiku. Padahal itu baru sekedar keinginan, belum terucap, bahkan dalam doa sekalipun. Jadi ngga ada yang tahu.
Betapa takjubnya aku begitu menyadari bahwa Allah sangat dekat dan Dia mengetahui apa yang ada di hatiku!

Ceritanya begini: Kala itu tahun 1999 aku kuliah di Sekolah Tinggi Komputer di Selatan Jakarta. Karena keuangan Bapakku masih belum memungkinkan untuk membelikanku sebuah komputer, terpaksa aku hanya memakai komputer di rentalan dekat kampus saja.

Ketika salah seorang Omku (adik Bapak) meninggal, yang istrinya pun sudah meninggal lebih dahulu, dan dia tidak memiliki anak kandung, sehingga akhirnya hartanyapun dibagi-bagi kepada kedua belah pihak keluarga Omku juga keluarga istrinya. Itupun tidak dibagi waris menurut hukum Islam, tapi menurut kesepakatan bersama saja di notaris dari semua pihak yang ada.

Sebagai kakak tertua dan figur yang jujur, Bapakku tidak terlibat secara intens di pembagian warisan itu. Terserah persetujuan dan kemauan pihak lain saja. Bapak memang kurang tertarik dengan masalah warisan. Bapak adalah figur yang sederhana dan kurang tertarik urusan uang, alias tidak mata duitan, he,he .... . Selain pembagian harta yang berupa nominal uang, juga ada bagi-bagi harta berupa barang-barang mewah peninggalan Omku yang lumayan cukup berada sebagai salah seorang mantan pejabat di lingkungan Departemen Perikanan. Semua orang ambil bagian, dari kursi ukiran jati, lemari jati, piano, mobil pribadi, handycam, emas permata, dll.

Waktu itu, dalam hati aku hanya ingin minta komputer butut Pentium 1 yang ada di gudang Omku, karena aku memang cuma butuh itu. Tapi rupanya, komputer itu sudah dipesan oleh adik Bapak lainnya, yaitu Tanteku yang sudah pensiun kerja, tapi belum menikah juga hingga di usia itu. Padahal secara materi, dia bisa beli sendiri. "Tapi dasar memang dia tidak bisa melihat kebutuhan keponakannya sendiri," batinku getir.
“Sudahlah,” kata Bapakku,”pasti ada rezeki yang lain nanti.”

Keesokan harinya, kami kedatangan teman Bapak. Mengantarkan sedikit rezeki katanya, uang terima kasih, karena Bapak telah membantu pengurusan surat tanah miliknya dengan baik hingga selesai. Teman Bapak itu adalah seorang pengusaha yang mengalami kesulitan dalam kepengurusan tanah miliknya yang hektaran. Karena kerap dipermainkan oleh para calo pengurus surat tanah, mereka minta uang, tapi surat tanah dan hak milik tidak beres-beres dikerjakan. Padahal sudah puluhan juta habis untuk pengurusan administrasi tersebut.

“Wah, jangan repot-repot dik. Saya ikhlas membantu.” kata Bapak waktu itu.
Ya, Bapakku selain terkenal karena kejujurannya, juga tanpa pamrih memebantu rekannya. Walaupun dia sendiri perlu uang, tapi sungguh tidak money oriented seperti kebanyakan orang lainnya.

"Ah, tidak banyak. Cuma 500 rb koq. Hitung-hitung ucapan terima kasih dari saya," katanya.

Bapak tidak bergeming, tetap duduk di kursinya. Tak lama setelah tamunya pulang, Bapak langsung memanggilku,”Wi, kataya kamu butuh uang untuk beli komputer, ini uang dari temen Bapak disimpan saja, nanti kalau Bapak ada rezeki, kamu bisa kumpulkan lagi ya,”

Waduh, aku kaget juga. Gak salah tuh 500 rb tumpukannya banyak banget? Dasar polos banget Bapakku, ternyata temannya itu memberi kami uang 5 juta! Untuk jaman itu (1999)alhamdulillah banget deh, karena akhirnya aku bisa beli Komputer Pentium III MMX plus printer, modem, speaker dan subwoofer ....

Sungguh Allah Maha Mendengar bisikan hati dan Maha Tahu yang kubutuhkan ... walau belum sempat terucap dalam doaku, namun hanya baru sekedar keinginan dalam hatiku saja.


Menakjubkan bukan? Allah memberiku satu set komputer lengkap dengan segala aksesorisnya!!!
Puas hati rasanya dengan apa yang ku miliki itu, bukan Cuma sekedar komputer butut belaka!

Terima kasih, ya Allah ....

Selasa, 25 Maret 2008

Allah, Engkau begitu dekat ....

Dapat dari ceramah nih, bagus sekali. Begini isinya:

Dimanakah Allah? Allah berfirman:

Wa huwa ma’akum aina maa kuntum. “Dan DIA bersamamu, dimanapun engkau berada”
“Jika ada yang bertanya kepadamu tentang AKU, maka katakanlah bahwa AKU menjawab panggilan hambaKU. AKU ini dekat, bahkan lebih dekat daripada urat leher.”
“Dia bersemayam di atas Arsy”
“Kemanapun engkau menghadap di situ wajah Allah”
”Dia tidak menyerupai apapun”

Jangan pakai persepsi.
Cukup lihat ciptaanNYA, kita sudah bisa tahu dimana DIA.

Kita juga bisa bertemu Allah melalui shalat.


QS Al Baqarah 45-46 :
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya itu sangat berat kecuali bagi orang yang khusyu’. Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa dia bertemu Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNYA.”

Protes pada Allah

“Aku tidak perlu bersyukur diberi nikmat nafas, diberi nikmat makan, dll. Karena itu semua adalah kewajiban Allah. Aku toh tidak minta diciptakan. Jadi sudah sewajarnya jika Dia memberiku nafas. Aku bersyukur karena diberi kesadaran sehingga aku menyadari bahwa yang menggerakkan nafas ini Allah.” Begitu kata sahabatku suatu ketika.

“Lagian, kalau Allah itu Maha Pengasih, Maha Pemberi, MAHA SEGALANYA, kenapa Allah biarkan aku dalam kesusahan, terpisah hidup selama bertahun-tahun dengan orang tua dan keluargaku sendiri,.... bla, bla, .... Kenapa Allah berlaku tidak adil kepadaku? Padahal aku selalu rajin sholat, selalu rajin ..., bla, bla, ...”

Astaghfirullahal adzim. Tiba-tiba saja aku marah begitu hebat. Aku tidak rela Allah diperlakukan seperti itu. Nggak sopan tuh ....
Memangnya siapa kita? Apa mentang-mentang kita tidak minta diciptakan, lalu kita boleh tidak berterima kasih? Memangnya siapa kita, berani mewajibkan Allah mengurus kita. Itu hak prerogatif Allah. Sekehendak Dia mau ngapain, iya kan ...

Sahabatku terlalu berburuk sangka kepada Allah, padahal mungkin dibalik semua perjalanan hidupnya itu, akan ada cerita hidup yang manis dan indah untuknya kelak, yang hanya Allah yang tahu rahasia dibalik itu semua, sebelum sahabatku menyadarinya.

Entahlah, aku nggak ngerti. Satu hal yang aku tahu, pada saat mendengar hal itu, tiba-tiba saja Allah memberikan rasa marah dalam hatiku.
Pelit. Itu namanya pelit. Apa susahnya sih berterima kasih atas itu semua? Apa susahnya mengakui bahwa itu semua terjadi atas kebaikan Tuhan dan bukan atas kewajiban Tuhan? Apa susahnya memuji Dia? Allah tidak butuh rasa terima kasih kita.

Kita yang butuh berterima kasih pada-Nya. Kita butuh memuji-Nya. Kita butuh menyembah-Nya. Jika semua itu kita lakukan, akan terjadi harmoni dalam kehidupan kita. Ketenangan, kedamaian.

Ya, itu yang kualami. Damai, tenang dan bahagia. Sangat bahagia bahkan sejak mengenal-Nya.
Sejak merasakan kehadiran-Nya. Sejak Dia menumbuhkan rasa cinta pada-Nya. Sejak Dia mulai mengajakku berkomunikasi setiap saat, lewat bahasa Allah.

Aku tahu sahabatku tidak bermaksud demikian, karena aku tahu dia sangat mencintai Allah, bahkan jauh sebelum aku. Cuma, dalam berspiritual dia mengagungkan akal, sehingga adalah keharusan untuk berpikir kritis terhadap Allah.
Allah tidak akan marah. Itu sah-sah saja.


Tapi entah kenapa aku tidak sependapat dengannya. Kok aku jadi gini? Koq aku jadi sangat mengagungkan Tuhan, sehingga untuk sampai berpikir kritis seperti itu saja, aku tidak sanggup.

Bukannya tidak mau berfikir kritis sebenarnya, tapi secara hati dan pemahaman spiritual yang aku punya. BAGIKU, KEKUASAAN ALLAH TAK TERBANTAHKAN ... yang paling wahid ... dan TAK PERLU DIPERTANYAKAN.
Jadi gak perlu repot-repot cari pembuktian atau berargumen lagi. Cuma tinggal memoles dan membenahi diri sendiri, mana-mana yang kurang, mana-mana yang perlu di tambal demi menuju kebaikan di jalan Allah .... Introspeksi diri terus deh!

Aih, gak kritis kah aku ... Justru wujud rasa syukurku yang tak terhingga, karena aku justru tak pernah gamang, tak pernah merasa perlu untuk mencari TUHAN. Karena ALLAH sudah ada, dekat. Dan sangat dekat dengan hambanya, hanya tinggal hamba itu merasakannya atau tidak.

Belajar Mengenal ALLAH

Dulu kala masih duduk dibangku kuliah (sekitar 1998), aku kerap berdebat dengan sahabat dekatku, tentang makna kehadiran Allah dan cinta Allah kepada makhluknya. Ada yang lucu menurutku, padahal sang sahabat itu rajin sekali sholat, bahkan tak pernah meninggalkan sholatnya bila dibandingkan denganku. Tapi kenapa masih ragu ya, benakku.

“Sholat sudah mendarah daging denganku, sejak kecil aku sudah dituntut untuk tidak pernah meninggalkan sholat dan mengaji. Sholat itu wajib.”

“Cuma sekedar wajib saja? Nggak ada embel-embel lainnya, maksudku, sholat itu merupakan ajang komunikasi kamu dengan Sang Khalik, begitu kan?”

“Ah, enggak. Aku tidak pernah merasakan seperti itu.”

Sungguh aneh menurutku. Pantas, meski rajin sholat, dia kerap protes terus pada Allah. Satu hal yang malah justru tak pernah terlintas dibenakku. Bagaimana mungkin protes dan tak puas pada Allah, karena DIA lah MAHA SEGALANYA.
Sungguh tak pantas rasanya. Nggak tahu diri malah menurutku. Karena aku merasa Allah itu ada, dan dekat. Sangat dekat dengan makhluknya. Allah tempat kita meminta dan bergantung. DIA tahu yang terbaik bagi setiap hambanya. DIA akan jadi seperti apa yang disangkakan mahkluknya.

Aku sering berdoa, dan mengadu pada Allah. Berbicara dengan Allah lewat batinku. Allah terasa sangat dekat bagiku. Padahal aku kerap malas untuk sholat, tapi dia tetap dekat denganku dan menuntunku melewati segala permasalahan yang datang silih berganti, karena aku PERCAYA, DIA ADA.

Allah mencintai aku, tapi aku belum mencintainya penuh seluruh dengan tidak menjalankan perintahNya. Ah, ternyata aku juga gak tahu diri ya!

Maklum anak muda, kerap tenggelam dalam emosi dan ego diri masing-masing kala itu ....

Kamis, 13 Maret 2008

Hati adalah Pemimpin

Peran hati terhadap seluruh anggota badan ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Di kemudian hari hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.

Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (Surat 16 Al-Israa’ (Memperjalankan Di Malam Hari) Ayat 36)

Rasulullah –Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda : “Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati.”(HR Bukhari dan Muslim)

Maka, memperhatikan dan meluruskan hati merupakan perkara yang paling utama untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah. Demikian pula dengan mengkaji penyakit-penyakit hati dan metode mengobatinya merupakan bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah.


Hatimu Saudaraku, semoga Allah memberkatimu....

Jangan kotori hatimu…
Hati yang kotor tidak akan pernah sampai kepada Allah…
Hati yang kotor tidak akan pernah hidup bahagia…
Hati adalah segala-galanya…
Seorang ahli ibadah yang hatinya kotor, kelak dilempar ke neraka…
Ibadah tidak merubahnya…
Ibadah tidak berguna bagi mereka…
Amalan hati lebih penting daripada amalan badan, walau keduanya sama penting…
Semoga hati kita benar-benar menjadi pemimpin yang baik dan bertangung jawab

Anda seorang Pemimpin atau Boss???

Yuk, berlatih jadi Pemimpin yang baik dan dicintai bawahan ....
Karena pemimpin yang bisa diterima dengan baik oleh bawahan dan lingkungan sekitar, akan menciptakan suasana kerja yang nyaman dan harmonis ...

Pendapat Jhon C Maxwell (dalam bukunya "Developing The Leader Within You") mengenai perbedaan Boss dan Pemimpin :

* Boss mendiktekan bawahannya, sedangkan pemimpin membimbingnya.
* Boss bergantung kepada otoritas, sedangkan pemimpin kepada kebijakan
* Boss memberikan rasa takut, sedangkan pemimpin memberikan antusiasme
* Boss mengatakan "Saya", sedangkan pemimpin mengatakan "kita"
* Boss mencari kambing hitam atas kesalahan, sedangkan pemimpin memperbaikinya
* Boss tahu bagaimana sesuatu harus dilakukan, sedangkan pemimpin menunjukkannya
* Boss berkata "ayo lakukan", sedangkan pemimpin berkata "ayo kita kerjakan"

Dalam sebuah acara farewell party, seorang karyawan memberikan ucapan perpisahan dengan mengatakan "...bapak telah berani membela saya dihadapan yg lain dengan mengakui saya sbg kesalahan bapak, istilahnya bapak berani pasang badan demi saya, saya berterima kasih dan saya akan mengingat hal itu selamanya".
Dapatkah kita menangkap makna kalimat tersebut, bahwa karyawan itu begitu kagum dengan attitude yg telah di tunjukkan oleh mantan atasannya dan dia meneladani nya. Tentu saja, nilai tertinggi dari keberadaan seorang pemimpin adalah PERSON HOOD "people follow because of who you are and what you represent".


Sikap atau attitude seorang pemimpin menjadi sorotan dan perbincangan oleh bawahannya. maka percayalah, buruk atau baik bawahan bisa dinilai dgn cara memperhatikan cara kepemimpinan atasannya.

Bila anda adalah seorang bawahan, maka untuk bekerja carilah role model yang menurut anda memang pantas ditiru, dia tidak harus atasan anda. dan bila anda seorang atasan, hal yang terbaik dilakukan setiap atasan adalah rutin melakukan introspeksi diri, benarkah anda sudah menjadi role model yang baik, karena meskipun anda beranggapandiri anda adalah urusan anda sendiri, tapi anda harus percaya bahwa anda diawasi dan diperhatikan oleh lingkungan anda. Jangan terlalu pongah untuk mengabaikan pendapat sekeliling anda tentang diri anda, “ saya tidak peduli orang mau bicara apa tentang saya, saya tidak peduli orang mencap saya jahanam atau pun keji atas keputusan yang saya ambil.”

Wah, .... Kalau yang begini, masuk model yang mana yaa ....