Rabu, 27 Februari 2008

TTM: BERBAGI EMOSI BUKAN DENGAN PASANGAN

Nah, ini salah satu yang bisa menjadi celah munculnya kemungkaran juga .... Mengabaikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang semestinya terhadap pasangan resmi kita ....
Ada sisi lain dari fenomena TTM yg bisa saya tangkap, saya pelajari, dan coba utk mengerti - walau mohon maaf; saya akan tetap memilih untuk tidak setuju.
Well, hubungan tanpa komitmen... apalagi dengan orang yg sudah punya pasangan... it's kind a dangerous thing I think
.

Kenapa juga mesti mengangkat topik ini? Karena rupanya fenomena ini cukup semarak juga terjadi di sekeliling kita, sebagaimana halnya di dunia kerja. Jelas jengah dan sebal melihatnya, apalagi jika si pelakunya menampik tuduhan itu, namun gerak-gerik mereka, tak bisa menutupinya .... Hanya Tuhan dan merekalah yang tahu ....

Selingkuh adalah selingkuh, terlepas dari apakah hal tsb berbentuk sebagai suatu hal yg bersifat fisik (tanpa ikatan emosi), atau apalagi bila sudah melibatkan emosi (baik itu sekedar rasa utk berbagi, apalagi bila sudah hingga curhat ttg masalah keluarga). Jadi nggak ada tuh istilah "..tidak apa-apa TTM (baca: selingkuh), bila hanya utk berbagi emosi, yg tak bisa disalurkan kepada pasangan.." WALAH .... Enak banget tuh ngambil jatah perhatian dari pasangan orang, he,he .... Bukankah hal-hal kecil bila dipupuk terus bisa menjadi besar? Maksudnya bukan tidak mungkin dari kedekatan emosi yang ada, bisa menjurus ke ikatan batin yang lebih mendalam lagi. Yang ada hanyalah kebohongan demi kebohongan yang tercipta bagi pasangan dan lingkungan sekitar.

Suatu hubungan (baik pernikahan maupun 'hanya pacaran'), sekali lagi, harus berdasarkan pada rasa saling percaya, saling membutuhkan, dan saling berbagi - baik dlm bentuk emosi, pikiran, maupun fisik. Bila salah satu hal tsb sudah tdk lagi dapat dipenuhi (karena alasan2 yg bersifat "sadar", dan bukan karena 'force majoure', utk apa lagi hubungan tsb dipertahankan? Atau utk apa dipertahankan, tetapi dengan cara salah satu atau ke-2 pihak berusaha mencari kompensasi pada pihak ke-3, atas tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan untuk saling berbagi tsb?
Sebagai cowok gentle, seharusnya kalo memang tidak cocok, tidak usah dicurhat-in ke orang-orang, selesaikan sendiri saja, kalaupun curhat, curhat saja sama teman sejenis...... Apakah anda bisa percaya terhadap seseorang yang tidak bisa mengurus dirinya dan keluarganya sendiri?? Apakah anda bisa percaya pada seseorang yang anda tahu sanggup membohongi pasangannya sendiri??

Mungkin cara berfikir saya konservatif kali ya...cuma menurutku kalau udah TTM tetap saja perasaan kita "terganggu"... lalu kalau di TTM-in balik sama suami atau istrinya..mau enggak??? Kok makna pernikahan di sepele-in banget ya?? kalau suami atau istri enggak bisa memenuhi "tangki emosi" pasangannya.. pasangannya bisa cari di tempat lain dengan TTM an itu... lalu ...buat apa juga nikah??? or TTM itu merupakan salah satu seni pernikahan?


Nah, yang membuat orang jadi puyeng apabila dari TTM sudah berubah menjadi TTS alias Teman Tapi Selingkuh. Sebel kan lihatnya.... Apabila kalau TTS nya di depan hidung kita .... Udah TTS, nggak ngaku lagi, he,he .... (pengalaman pribadi nih!)


.... I live in a wheel... he..he..he,... what a live...

Selasa, 26 Februari 2008

BELAJAR MEMERANGI KEMUNGKARAN

Yup, yup, yup ....
Ternyata butuh energy extra besar buatku untuk sekadar bisa menulis saja ....
Lewat tulisan, aku ingin berbagi pengalaman dan mencurahkan segenap ganjalan hati serta uneg-uneg yang ada ....
Sembari belajar untuk bisa lebih arif dan bijaksana lagi dalam menjalani hidup ini ....



Memerangi Kemungkaran

Andai kau saksikan kemungkaran, ubahlah dengan tanganmu,
Bila terasa berat bagimu, ubahlah dengan lisanmu.
Jika melakukannnya kau tak mampu, tolaklah itu dengan kalbu. Namun demikian itu adalah selemah-lemah imanmu.

Hadits tentang kemungkaran ini termasuk yang popular di kalangan umat islam. Namun kepopulerannya saat ini seakan tidak mampu membendung kemungkaran yang tengah terjadi di mana-mana. Kemungkaran adalah sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan syariat Allah atau bertentangan dengan hati nurani manusia secara umum. Jaman sekarang ini memang mudah sekali kita dapat menemukan kemungkaran. Kadang kita sendiri gemas melihat kemungkaran tsb dengan semena-mena terjadi.

Derajat terendah dari mencegah kemungkaran adalah dengan hati. Hatinya tidak cocok dengan kemungkaran yang terjadi. Hatinya meronta, tapi ia tidak kuasa untuk berkata dan berbuat. Merekalah yang disebut oleh Nabi SAW dengan orang yang beriman lemah. Bagi mereka yang hatinya tidak cocok sebetulnya masih ada yang bisa diperbuat. Yaitu ia meninggalkan tempat / teman itu dan tidak berhubungan dengan kemungkaran tsb, minimal melihatnya. Lebih baik kehilangan teman daripada kehilangan iman. Sebab, diam pun adalah selemah-lemah iman. Jika menyetujui bahkan melakukannya, mereka itulah yang kehilangan iman.